PEKANBARU, RIAU — Sorotan terhadap kondisi di balik tembok Lapas Kelas IIA Pekanbaru kembali memanas.
Pemberitaan sebelumnya mengenai dugaan perlakuan khusus terhadap Makmur alias Aan, narapidana dalam perkara korupsi proyek Jalan Batu Panjang–Pangkalan Nyirih, ternyata belum menyudahi tanda tanya publik.
Informasi terbaru yang diterima GarudaSakti.id justru memunculkan cerita lain yang tak kalah mengejutkan.
Dua narapidana disebut telah dimasukkan ke kamar yang sebelumnya dikabarkan ditempati Aan seorang diri. Namun, berdasarkan informasi yang diterima media, kedua napi tersebut diduga tidak sepenuhnya diperlakukan sebagai penghuni kamar.
Mereka disebut hanya diperbolehkan menumpang tidur pada malam hari.
Sementara untuk membawa pakaian, makanan, hingga menggunakan kamar untuk mandi, keduanya dikabarkan tidak diperbolehkan.
Jika informasi ini benar, publik tentu patut bertanya:
Mengapa dua napi tersebut ditempatkan di kamar Aan, tetapi justru disebut tidak bebas menggunakan kamar sebagaimana penghuni lainnya?
Dua Napi Masuk, Tapi Hanya untuk Tidur?
Penempatan dua narapidana tambahan tersebut muncul setelah sebelumnya mencuat informasi mengenai dugaan kamar khusus yang hanya dihuni Aan.
Namun, bukannya persoalan menjadi terang, justru muncul tanda tanya baru.
Informasi yang dihimpun media menyebut kedua napi tersebut hanya diperbolehkan berada di kamar pada malam hari untuk tidur. Mereka disebut tidak diperkenankan membawa pakaian maupun makanan ke dalam kamar.
Bahkan, mereka dikabarkan tidak diperbolehkan mandi di kamar tersebut.
Jika benar demikian, kondisi ini tentu membutuhkan penjelasan dari pihak Lapas.
Apakah kedua napi tersebut memang secara resmi ditempatkan di kamar itu?
Jika iya, mengapa berbagai aktivitas dasar mereka justru dibatasi?
Apakah ada aturan tertulis?
Apakah ada instruksi petugas?
Atau ada alasan keamanan tertentu?
Jangan sampai penambahan dua napi tersebut hanya terlihat sebagai perubahan administratif, sementara persoalan mengenai dugaan perlakuan berbeda terhadap Aan belum benar-benar terjawab.
Kamar Lain Padat, Mengapa Kamar Ini Berbeda?
Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah kondisi kamar warga binaan lainnya yang disebut jauh lebih padat.
Di satu sisi, terdapat informasi mengenai kamar-kamar yang dihuni dalam kondisi berdesakan.
Di sisi lain, kamar yang ditempati Aan disebut masih relatif lapang meski kini telah ditambah dua narapidana.
Perbedaan kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai standar penempatan warga binaan di Lapas Kelas IIA Pekanbaru.
Jika kapasitas hunian memang terbatas, bagaimana sistem pembagian kamar dilakukan?
Apakah terdapat klasifikasi tertentu?
Apakah ada alasan keamanan yang membuat Aan mendapatkan penempatan berbeda?
Atau memang terdapat kebijakan khusus yang belum diketahui publik?
Semua itu semestinya dapat dijelaskan secara transparan.
Pergantian Kalapas, Dugaan Sikap Aan Disebut Belum Berubah
Kini Lapas Kelas IIA Pekanbaru telah memasuki kepemimpinan Kalapas baru, Eko Ari Wibowo, A.Md.IP., S.H., M.M.
Pergantian pimpinan tentu diharapkan membawa pembenahan, khususnya terhadap aspek keamanan dan ketertiban atau Kamtib.
Namun, informasi yang diterima GarudaSakti.id menyebut bahwa kehadiran pimpinan baru tersebut belum membuat situasi terkait Aan sepenuhnya berubah.
Aan disebut masih menunjukkan sikap berani di dalam lingkungan Lapas.
Bahkan, ia dikabarkan masih kerap memarahi dan mencaci maki narapidana lainnya.
Sejumlah warga binaan lainnya disebut memilih diam karena merasa takut berhadapan dengan Aan.
Jika informasi ini benar, kondisi tersebut jelas bukan persoalan sepele.
Sebab ketika seorang narapidana merasa bebas memarahi atau mencaci maki warga binaan lainnya, sementara napi lain memilih takut dan diam, maka situasi tersebut berpotensi mengganggu keharmonisan serta keamanan dan ketertiban di dalam Lapas.
Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan?
Pertanyaan terbesar kini mengarah pada sistem pengawasan.
Apakah petugas mengetahui dugaan perilaku tersebut?
Jika mengetahui, apakah sudah ada teguran?
Jika sudah ada teguran, apakah perilaku tersebut masih berulang?
Dan apabila warga binaan lain benar-benar merasa takut, apakah pernah ada laporan atau pengaduan yang masuk kepada petugas?
Jangan sampai persoalan semacam ini dibiarkan berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Lapas seharusnya menjadi tempat pembinaan, bukan ruang bagi seorang warga binaan untuk membangun pengaruh atau membuat warga binaan lainnya merasa tertekan.
Kalapas Baru Dituntut Membuktikan Pembenahan
Kehadiran Kalapas baru seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Mulai dari sistem penempatan kamar, pengawasan aktivitas warga binaan, penerapan tata tertib, hingga penanganan terhadap setiap laporan atau keluhan dari narapidana.
GarudaSakti.id meminta Kalapas Kelas IIA Pekanbaru Eko Ari Wibowo memberikan penjelasan mengenai informasi yang berkembang tersebut.
Begitu pula Kakanwil Ditjenpas Riau diharapkan tidak hanya menunggu laporan dari bawah, tetapi memastikan langsung bahwa sistem pengamanan dan pembinaan di Lapas Pekanbaru berjalan sesuai ketentuan.
Publik berhak mendapatkan jawaban:
Mengapa dua napi hanya disebut diperbolehkan tidur di kamar Aan?
Mengapa mereka disebut tidak boleh membawa pakaian dan makanan?
Mengapa mereka disebut tidak boleh mandi di kamar tersebut?
Benarkah kamar tersebut masih jauh lebih lapang dibandingkan kamar warga binaan lainnya?
Benarkah Aan masih leluasa keluar-masuk area tertentu di lingkungan Lapas?
Dan yang paling serius:
Benarkah ada warga binaan lain yang merasa takut terhadap Aan akibat dugaan perilaku mencaci maki dan membuat kegaduhan?
Jangan Sampai Ada “Kekuasaan” di Balik Jeruji
GarudaSakti.id menegaskan, seluruh informasi mengenai dugaan perlakuan khusus, pembatasan terhadap dua napi, serta dugaan perilaku Aan masih perlu diverifikasi dan dikonfirmasi kepada pihak yang berwenang.
Pemberitaan ini tidak bermaksud menghakimi Aan maupun pihak Lapas.
Namun, jika informasi tersebut benar, maka persoalannya menyangkut lebih dari sekadar satu kamar.
Ini menyangkut wibawa petugas, keamanan warga binaan, disiplin, dan integritas sistem pemasyarakatan.
Jangan sampai di balik jeruji besi justru muncul seorang warga binaan yang merasa memiliki kekuasaan lebih besar daripada aturan.
Karena Lapas bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling berani. Lapas adalah tempat di mana semua orang harus tunduk pada aturan yang sama.
Kini bola berada di tangan pimpinan Lapas Kelas IIA Pekanbaru yang baru.
Apakah dugaan ini akan dibuka terang-benderang, atau justru kembali terkubur di balik tembok Lapas?
GarudaSakti.id akan terus menelusuri informasi ini dan memberikan ruang kepada pihak Lapas, Kanwil Ditjenpas Riau, maupun Makmur alias Aan untuk menyampaikan klarifikasi dan hak jawab. (*)













