KUALA LUMPUR — Kabut asap tebal kembali menyelimuti kawasan Lembah Klang, termasuk ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, pada awal Oktober 2026. Langit yang biasanya cerah kini tampak berkabut tebal, mengurangi jarak pandang hingga membuat aktivitas warga Kuala Lumpur sedikit terhambat.
Badan Meteorologi Malaysia menyebutkan, konsentrasi kabut asap yang melanda wilayah selatan dan barat semenanjung Malaysia ini diduga kuat berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera Utara, Kalimantan, serta Provinsi Riau, Indonesia. Angin yang bertiup ke arah utara membawa partikel asap melintasi Selat Malaka hingga menyebar ke berbagai negara tetangga.
Di beberapa titik di Kuala Lumpur, warga terlihat mulai menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Beberapa sekolah melaporkan pembatasan kegiatan luar ruangan demi menjaga kesehatan siswa. Pihak berwenang pun terus memantau perkembangan kualitas udara dan menghimbau masyarakat Kuala Lumpur untuk membatasi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih melanda.
Saat berkunjung ke kawasan Istana Negara Malaysia, Kuala Lumpur, jalan tuanku Abdul Halim,bukit damansara Kuala lumpur,pada Sabtu (10/10/2026), salah satu turis, Mister Sisi, menyampaikan keluhannya kepada awak media.
“Kabut asap di sini kalau pagi hari terasa sekali cuacanya. Mungkin ini kabut asap yang datang dari Sumatera Utara dan Kalimantan. Jadi bagaimana cara mengatasinya supaya tidak ada kabut asap lagi? Apakah di Sumatera Utara banyak yang membakar hutan dan lahan sehingga asapnya berdampak sampai ke luar negeri, ke Malaysia?” ujar Mister Sisi saat berbincang sejenak di kawasan Istana Negara.
Padahal barapa hari ini orang besar dari berapa negara akan hadir ke istanah negara untuk melakukan kunjungan,asap makin parah sehingga kadang kita mata ,dan lemas menghirup udara asap kabut yang tidak sedap ini..
Direktur Media Patrolikriminal86, Jasriadi, juga mengamati dampak meluasnya kabut asap tersebut.
“Selama ini kita beranggapan bahwa asap paling kuat hanya di Riau akibat kebakaran lahan gambut. Ternyata setelah saya berkunjung ke luar negeri, ke Malaysia dan Singapura, asapnya pun terasa cukup tebal di sana,” ungkap Jasriadi.
Jasriadi menambahkan, pihak terkait di berbagai daerah di Indonesia terus berupaya memadamkan titik api di berbagai lokasi yang menjadi sumber kabut asap tersebut. Diharapkan dalam beberapa hari ke depan kondisi cuaca akan membaik dan kualitas udara di kedua negara dapat kembali normal.













