Pekanbaru – Penanganan kasus penyitaan 160 juta batang rokok ilegal di kawasan pergudangan Avian, Kota Pekanbaru, hingga kini belum menunjukkan perkembangan berarti. Setelah sempat menjadi sorotan publik dan ramai diberitakan pada awal Januari 2026, kasus besar tersebut justru terkesan menguap tanpa kejelasan. Sabtu 4 April 2026.
Hingga memasuki April 2026, tidak ada informasi lanjutan terkait keberadaan barang bukti maupun siapa pemilik sebenarnya dari ratusan juta batang rokok ilegal tersebut. Kondisi ini memicu kecurigaan publik, bahkan muncul dugaan bahwa pengungkapan besar tersebut hanya bersifat “abal-abal” atau tidak transparan dalam penanganannya.
Sejumlah awak media yang sebelumnya melakukan peliputan mendalam menyebutkan, sejak peristiwa dugaan intimidasi dan penghalangan peliputan terjadi, tidak ada lagi akses informasi yang terbuka dari pihak terkait. Upaya konfirmasi lanjutan kepada instansi berwenang pun terkesan tertutup dan tidak memberikan jawaban substansial.
“Kasus sebesar ini seharusnya menjadi prioritas penegakan hukum. Tapi faktanya, hingga sekarang tidak ada kejelasan barangnya di mana, siapa pemiliknya, dan bagaimana proses hukumnya berjalan,” ujar salah seorang jurnalis di Pekanbaru.
Ketidakjelasan ini semakin memperkuat dugaan adanya kejanggalan dalam proses pengungkapan. Apalagi sebelumnya sempat terjadi perbedaan keterangan terkait lokasi pemindahan barang bukti, yang disebut-sebut akan dibawa ke Cikarang, kemudian diralat ke Jakarta, namun tidak pernah dapat dipastikan kebenarannya.
Lebih lanjut, tidak adanya pengumuman resmi terkait penetapan tersangka maupun perkembangan penyidikan membuat publik bertanya-tanya. Padahal, dalam konferensi pers awal, disebutkan adanya beberapa pihak yang telah diamankan, meski bukan aktor utama.
“Ini yang jadi tanda tanya besar. Kalau benar ada penyitaan sebesar itu, tidak mungkin tidak ada pemiliknya. Siapa yang bertanggung jawab? Siapa dalangnya?” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, isu dugaan keterlibatan aktor besar kembali mencuat di tengah masyarakat. Banyak pihak menilai bahwa tanpa keberanian mengungkap dalang utama, penindakan seperti ini hanya akan menjadi formalitas semata tanpa efek jera.
Publik juga mulai mempertanyakan kredibilitas aparat dalam menangani kasus ini. Desakan agar dilakukan audit terbuka serta transparansi penuh pun semakin menguat, termasuk permintaan evaluasi terhadap pejabat terkait di wilayah Riau.
“Kalau dibiarkan tanpa kejelasan, ini bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum. Jangan sampai kasus besar seperti ini hanya jadi konsumsi pemberitaan sesaat,” tambah warga lainnya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi terbaru dari pihak Bea Cukai Pusat maupun instansi terkait lainnya mengenai perkembangan kasus tersebut.
Redaksi masih terus berupaya melakukan konfirmasi guna memperoleh kejelasan dan memastikan informasi yang berimbang kepada publik.

(*)













