Kampar – Tragedi kemanusiaan kembali mencoreng wajah pelayanan publik di penghujung tahun 2025. Seorang anak bernama Heldi, putra Nazarudin, meregang nyawa secara tragis pada Rabu sore, 31 Desember 2025, sekitar pukul 17.20 WIB. Ia tewas setelah tersengat kabel listrik aktif milik PLN yang menjuntai rendah di lingkungan Sekolah MTs Desa Bukit Ranah – kawasan yang seharusnya steril dari ancaman maut. Senen (5/1/26)
Petang itu, Heldi hanya ingin bermain bola bersama teman-temannya. Tak ada firasat, tak ada peringatan. Dalam hitungan detik, permainan anak – anak berubah menjadi jerit panik. Tubuh Heldi diduga terjerat kabel beraliran listrik yang melintas rendah dan jauh dari standar keselamatan. Kabel maut itu menjadi perangkap mematikan, merenggut nyawa seorang anak yang bahkan belum mengerti arti bahaya infrastruktur.
Warga sekitar sontak panik. Seorang saksi mata bernama Ijon nekat mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk melepaskan tubuh Heldi dari kabel beraliran listrik. Korban kemudian dilarikan ke klinik terdekat. Namun, keterbatasan fasilitas medis membuat penanganan darurat tak berjalan maksimal. Meski detak jantung korban sempat terdeteksi, Heldi akhirnya dinyatakan meninggal dunia setelah dirujuk ke RSUD Bangkinang.
Duka mendalam menyelimuti Desa Bukit Ranah. Namun di balik air mata, amarah publik mulai membuncah. Fakta demi fakta yang terungkap justru mengarah pada dugaan kelalaian serius dan sistemik. Pihak sekolah mengungkapkan bahwa kabel listrik berbahaya tersebut telah berulang kali dilaporkan kepada PLN, namun tidak pernah ditindaklanjuti secara nyata.
Ironisnya, karena tak kunjung mendapat respons, pihak sekolah mengaku terpaksa melakukan “penanganan darurat” secara mandiri dengan menopang kabel menggunakan tongkat kayu. Sebuah solusi seadanya, tidak berstandar keselamatan, dan sama sekali tidak pantas dibebankan kepada institusi pendidikan. Upaya itu kini terasa pahit – karena nyawa seorang anak telah terlanjur melayang.
Tragedi ini memunculkan satu pertanyaan besar yang menggema di tengah masyarakat, Sampai kapan kelalaian infrastruktur publik terus memakan korban?
Apakah laporan warga hanya menjadi tumpukan arsip tanpa aksi, hingga maut benar-benar datang menagih tanggung jawab?
Nyawa Heldi adalah harga yang terlalu mahal untuk sebuah pembiaran. Publik kini menunggu: apakah tragedi ini akan diusut tuntas, atau kembali tenggelam sebagai catatan kelam yang dilupakan?
✍️Team













