Example 728x250
Kampar

Festival Lampu Colok (Tunam) Dapat Perhatian Dari Pemda Kampar” Warga Desa Sipungguk: Hidupkan Kembali Tradisi Lama Kampar di Malam 27 Ramadhan

8
×

Festival Lampu Colok (Tunam) Dapat Perhatian Dari Pemda Kampar” Warga Desa Sipungguk: Hidupkan Kembali Tradisi Lama Kampar di Malam 27 Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Bangkinang – Sipungguk, Suasana penuh semangat dan kebersamaan terlihat di tengah masyarakat Desa Sipungguk, Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar. Warga bersama pemerintah desa kembali menghidupkan tradisi budaya lama Kampar melalui Festival Lampu Colok hingga Malam Takbiran Keliling nanti yang digelar pada Senin malam (16/3/26).

Tradisi yang sempat mulai jarang terlihat ini, kini kembali bersinar berkat inisiatif masyarakat dan dukungan Kepala Desa Sipungguk, Mawardi. Warga dari desa sipungguk bergotong-royong membuat dan menyalakan lampu colok (lampu minyak tradisional) (tunam) yang disusun membentuk berbagai ornamen dan tulisan bernuansa Islami.

Salah satu karya yang menarik perhatian datang dari Desa sipungguk di berbagai titik lokasi, di mana susunan lampu colok membentuk tulisan religius lapas Allah yang menyala indah di tengah malam.

Cahaya lampu minyak tersebut menciptakan suasana hangat sekaligus menarik perhatian warga lain yang melintas didepan obor dan mengingatkan masyarakat pada tradisi lama yang dahulu selalu menghiasi malam-malam akhir Ramadhan di Kampar.

Kepala Desa Sipungguk, Mawardi, mengatakan kegiatan ini merupakan upaya bersama untuk menghidupkan kembali tradisi budaya turun-temurun masyarakat Kampar yang hampir hilang sejak lampu PLTA koto panjang ada.

“Tradisi lampu colok ini adalah warisan budaya nenek moyang kita. Kami ingin generasi muda kembali mengenal dan mencintai budaya sendiri. Alhamdulillah masyarakat sipungguk sangat antusias untuk menghidupkannya kembali,” ujar Mawardi.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya sekadar perlombaan atau festival, tetapi juga menjadi sarana mempererat persatuan masyarakat desa, khususnya para pemuda yang terlibat langsung dalam pembuatan dan pemasangan lampu colok giat untuk saling bergotong royong.

Mawardi juga berharap kegiatan ini bisa lebih meriah lagi pada tahun-tahun mendatang, khususnya pada malam ke-27 Ramadhan yang diyakini masyarakat sebagai malam penuh berkah, malam Lailatul Qadar.

“Harapan kami tahun depan, malam 27 Ramadhan nanti desa ini akan dipenuhi api obor atau tunam seperti tradisi lama. Kami ingin suasana religius dan budaya ini kembali terasa seperti dulu,” tambahnya.

Lebih jauh, masyarakat Desa Sipungguk berharap tradisi Festival Lampu Colok ini dapat berkembang menjadi ikon budaya Kabupaten Kampar. Dengan dukungan pemerintah daerah, kegiatan ini diharapkan dapat masuk dalam agenda budaya tahunan sehingga mampu menarik perhatian masyarakat luas sekaligus melestarikan kearifan lokal.

Melalui semangat gotong royong dan kecintaan terhadap tradisi, warga Desa Sipungguk telah membuktikan bahwa budaya tidak akan pernah hilang selama masyarakat terus menjaga dan melestarikannya.

Festival lampu colok yang menerangi malam Ramadhan di desa ini pun menjadi simbol bahwa warisan budaya Kampar masih tetap hidup di tengah masyarakat.

 

✍️Isar Topankk 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *