Example 728x250
BeritaJambi

Dua Periode Hanya Janji, Jalan Padang Lamo Kian Hancur: Warga Menjerit, Siap Tutup Akses Jika Tak Diperbaiki

5
×

Dua Periode Hanya Janji, Jalan Padang Lamo Kian Hancur: Warga Menjerit, Siap Tutup Akses Jika Tak Diperbaiki

Sebarkan artikel ini

Tebo – Kondisi Jalan Padang Lamo di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, kian memprihatinkan. Jalan yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat itu kini dipenuhi lubang, lumpur, dan genangan air, sehingga sulit dilalui dan membahayakan pengguna jalan.

Kerusakan yang telah berlangsung lama ini menimbulkan kekecewaan mendalam di tengah masyarakat. Warga mengaku lelah menunggu perbaikan yang tak kunjung terealisasi, sementara aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas sehari-hari terus terganggu.

Tokoh masyarakat Desa Tanjung Pucuk Saputra, menyampaikan bahwa harapan masyarakat terhadap pemerintah daerah perlahan berubah menjadi kekecewaan. Ia menilai, selama dua periode kepemimpinan Gubernur Al Haris, perbaikan Jalan Padang Lamo hanya sebatas janji.

“Sudah terlalu lama kami menunggu. Setiap hari kami melewati jalan yang rusak parah, penuh risiko. Ini bukan sekadar jalan rusak, tapi sudah menyulitkan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, berbagai upaya penyampaian aspirasi telah dilakukan, namun belum membuahkan hasil yang nyata. Kondisi tersebut membuat masyarakat merasa tidak mendapat perhatian yang layak dari pemerintah daerah.

Kini, harapan terakhir masyarakat tertuju kepada pemerintah pusat. Warga meminta Presiden Republik Indonesia untuk segera menginstruksikan jajarannya agar turun langsung menangani kerusakan Jalan Padang Lamo yang semakin parah.

“Kami berharap pemerintah pusat bisa melihat langsung kondisi ini. Jalan ini sangat penting bagi kami, jangan sampai terus dibiarkan,” tambahnya.

Kekecewaan yang terus menumpuk juga memicu rencana aksi protes dari masyarakat. Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret, warga di sepanjang Jalan Padang Lamo mengancam akan melakukan aksi serentak dengan menanam berbagai jenis pohon di badan jalan, seperti sawit, kelapa, pisang, jengkol, dan durian.

Langkah tersebut disebut sebagai bentuk protes sekaligus simbol bahwa akses jalan yang selama ini diabaikan akan benar-benar ditutup oleh masyarakat.

Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata sebelum kondisi semakin memburuk dan kepercayaan publik kian memudar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *