Kampar – Sebuah pemandangan memilukan tersaji di kawasan Danau PLTA Koto Panjang. KM Banawa Nusantara 58, kapal hibah Kementerian Perhubungan RI tahun 2019 yang dulu diperjuangkan dengan penuh dan harapan besar, kini tampak lapuk, miring, dan nyaris tenggelam. Besi-besinya berkarat, badan kapal retak di sana-sini – seolah menunggu waktu sebelum benar-benar hilang ditelan danau. Senen (8/12/25)
Padahal kapal tersebut adalah aset resmi Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar, yang pada awalnya dipercayakan kepada Dinas Pariwisata pascakecelakaan tragis di Danau PLTA pada Desember 2020 lalu, yang merenggut satu nyawa. Harapan agar kapal ini menjadi sarana keselamatan, wisata, atau pendukung PAD daerah kini berubah menjadi ironi yang menyakitkan.
Hasil pantauan di lokasi menunjukkan kondisi kapal telah sangat memprihatinkan. Cat mengelupas, papan lapuk, bahkan beberapa bagian sudah tak lagi layak disebut aman. Warga yang menyaksikan langsung mengaku sedih.
“Kapal ini hibah dari pemerintah pusat. Masa dibiarkan mubazir seperti ini? Ini aset negara, bukan barang rongsokan,” keluh seorang warga dengan nada kecewa.
Warga menilai, jika kapal ini dirawat dan difungsikan dengan baik, Pemda Kampar sebenarnya bisa memperoleh tambahan PAD dari sektor wisata dan transportasi air. Namun kenyataan yang terlihat justru sebaliknya: kapal ratusan juta itu dibiarkan terpuruk tanpa kejelasan masa depan.
Kondisi kapal yang makin memburuk membuat masyarakat kembali mempertanyakan komitmen dan keseriusan Pemerintah Kabupaten Kampar dalam merawat asetnya sendiri. Banyak yang menilai seolah ada sikap “masa bodoh”, terlebih karena kapal tersebut merupakan barang hibah dari pemerintah pusat.
“Kalau Pemda tidak mau memanfaatkan, minimal rawatlah. Ini bukan barang kecil. Pemerintah terkesan sengaja membiarkan kapal ini mati perlahan,” ujar warga lainnya.
Warga menegaskan bahwa kerusakan kapal ini bukan sekadar persoalan benda rusak, melainkan bentuk pemborosan. Aset yang bisa menghasilkan, justru dibiarkan menjadi bangkai terapung di Danau Rusa PLTA Koto Panjang.
Karena itu, masyarakat mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan: memperbaiki, memanfaatkan, atau minimal menyelamatkan kapal agar tidak hancur sepenuhnya.
✍️Isar Topankk













