Example 728x250
Internasional

Serangan Ke Iran, Aksi Destabilisasi Terhadap Asia Tengah dan Kaukasus Selatan?

6
×

Serangan Ke Iran, Aksi Destabilisasi Terhadap Asia Tengah dan Kaukasus Selatan?

Sebarkan artikel ini

Masih soal Lintasan Laut Kaspia. Azerbaijan yang termasuk Kaukasus Selatan. Seperti kekhawatiran semula, dalam serangan AS-Israel ke Iran, Pada tanggal 5 Maret, dua serangan pesawat tak berawak dilakukan terhadap eksklave Nakhchivan milik Azerbaijan. Pesawat tak berawak pertama menghantam gedung terminal Bandara Internasional Nakhchivan, sekitar enam mil di seberang perbatasan dari Iran. Sabtu (7/03/2026).

Ini saja sudah dengan sendirinya menciptakan kekacauan dan kecamuk di Lintasan Laut Kaspia. Dalam prakarsa perdamaian antara Armenia dan Azerbaijan terungkap bahwa koridor kereta api dan jalan raya yang direncanakan melalui Armenia selatan, akan menghubungkan Azerbaijan ke Nakhchivan dan selanjutnya ke pasar Eropa melalui Turki. Otomatis gara-gara serangan AS tersebut, rencana strategis Azerbaijan jadi sangat terganggu.

Koridor ini mewakili mata rantai penting yang selama ini diabaikan nilai strategisnya secara geopolitik, padahal dalam jaringan lintas kawasan dalam lingkup yang lebih luas, koridor itu dapat berfungsi menghubungkan kawasan Asia Tengah ke kawasan Eropa sambil melewati Rusia dan Iran. Efek susulan dari serangan AS-Israel ke Iran ini praktis mengacaukan rencana strategis Azerbaijan-Armenia. Yang jadi teka-teki di sini, skema kerja sama Azerbaijan-Armenia itu justru disupervisi oleh Presiden Donald Trump. Apakah Trump membelai dengan tangan kanan lalu memukul lewat tangan kirinya?

Yang jelas, penargetan wilayah Nakhchivan menimbulkan ancaman keamanan regional terhadap inisiatif konektivitas geografis yang saat ini sedang berkembang, dan dengan demikian menggarisbawahi pertaruhan geopolitik seputar koridor transportasi baru di seluruh Kaukasus Selatan, menjadi sangat penting dan mendesak saat ini menurut pertimbangan keamanan nasional.

Masuk akal begitu menghantam gedung terminal Bandara Internasional Nakhchivan, sekitar enam mil di seberang perbatasan dari Iran, Presiden Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menggelar pertemuan Dewan Keamanan. Berarti, serangan AS-Israel ke Iran, sudah menyentuh isu politik dan keamanan, bukan sekadar soal pertahanan-militer.

Pemerintah Iran sendiri melalui Wakil Meneri Luar Negeri Kazem Gharibabadi membantah keterlibatan Iran dalam serangan pesawat tak berawak tersebut. Dalam sebuah wawancara , Gharibabadi mengatakan, “Kebijakan Iran hanya menyerang pangkalan militer musuh-musuhnya,” khususnya pangkalan yang telah digunakan untuk menyerang Iran.

Kemudian, Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi juga mengeluarkan pernyataan yang membantah keterlibatan Teheran dalam serangan tersebut, dan malah menyalahkan Israel.

Bantahan yang disampaikan Seyyed Abbas Araghchi atas keterlibatan Iran dalam serangan dan menuding Israel, kita jadi ingat berita sebelumnya dengan tertangkap basahnya seorang agen Mossad di Qatar. Apakah serangan ke eksklave Nakhchivan milik Azerbaijan juga merupakan False Flag Operation alias Operasi Bendera Palus yang seakan-akan serangan Iran padahal ulah Israel? Entahlah.

Yang jelas, konstelasi global di Kaukasus Selatan dan pastinya juga Asia Tengah, dalam keadaan yang tidak stabil. Sekadar informasi, pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC) yang membentang dari Azerbaijan melalui Georgia ke Turki berisiko diserang dan menyeret wilayah lain ke dalam konflik. BTC saat ini mengangkut sekitar 30 persen pasokan minyak Israel.

Azerbaijan yang dulunya bergabung dengan Rusia dalam Uni Soviet, pada 1991 memisahkan dari Rusia dan mendirikan negara-bangsa sendiri seperti juga Georgia, Ukraina, dan negara-negara Asia Tengah. Menariknya, Azerbaijan penduduknya beragama Islam bahkan tradisi keagamaannya banyak sesuai dengan Islam Iran.

Namun saat ini, Israel dan Azerbaijan menjalin kerja sama ekonomi dan perdagangan yang cukup intens. Selain itu Israel juga telah menjadi mitra utama dan pemasok senjata bagi Azerbaijan, seraya memberikan Baku ruang strategis untuk menavigasi hubungannya dengan Israel.

Lagi-lagi pertanyaan strategisnya, apakah ini justru tujuan utama serangan AS-Iran pada Sabtu 28 Februari lalu? Sepertinya motif terselubung AS mulai terungkap secara tidak langsung melalui gagasan yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Turkmenistan Rashid Meredov.

Berbicara di Forum Jalur Sutra Tbilisi ke-5 pada 22 Oktober 2025 lalu, Rashid Meredov menegaskan Turkmenistan berkomitmen untuk menghidupkan kembali konsep “Jalur Sutra” untuk transit gas dari Asia Tengah ke Eropa. Rencana yang digulirkan Menteri Luar Negeri Meredov itu sebagai respons balasan terhadap tekanan Iran agar Turkmenistan menghentikan impor gas dari Irak.

Namun tekanan yang pastinya bernuansa ancaman dari Washington, ternyata malah mengilhami Turkemenistan menghidupkan kembali minat lama negara yang juga termasuk salah satu dari negara pesisir di Lintasan Laut Kaspia itu, untuk membangun jalur pipa trans-Kaspia yang memungkinkan gas Turkmenistan mengalir ke Eropa.

Perkembangan ini pastinya mengunang kekhawatiran Amerika. Betapa tidak. Jika pembangunan pipa gas lintas Laut Kaspia jadi kenyataan, para investor akan lebih cenderung mempertimbangkan pembiayaan untuk konstruksi, serta perluasan kapasitas yang diperlukan dari jalur yang ada melalui Azerbaijan, Georgia, dan Turki ke Eropa. Gas juga berpotensi dapat ditransit melalui pipa yang dibangun di sepanjang koridor darat Armenia-Azerbaijan.

Rupanya, Donald Trump yang sejatinya merupakan pebisnis, melihat skema mandiri dari pipa gas lintas Laut Kaspia jadi kenyataan, lebih suka menguasai langsun alih-alih berinvestasi selaiknya seorang pebisnis.

( Idrak )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *